Cinta adalah sebuah perjalanan yang tak bisa ditempuh dalam satu atau dua hari. Tidak juga dalam sebulan atau satu tahun. Tak ada peta untuk menemukan tempat bernama cinta. Tak ada buku panduan travelling yang bisa menuntun kita ke sana. Mana ada pula panduan menghemat budget untuk tiba di sana. Itulah mengapa cinta itu dekat dengan galau.
“Karena tidak ada yang pasti dalam cinta, semua bisa berubah. Menggalaukan dan was-was. Kita tidak tau apa yang akan terjadi.”, kata Della, seorang sahabat.
“Cinta identik dengan belajar. Belajar itu identik dengan pertanyaan. Dan pertanyaan itu identik dengan galau.”, kata Ale, seorang sahabat.
“Galau itu relatif. Tapi jika dihubungankan dengan cinta, maka cinta itu pakai perasaan, galau juga berhubungan sama dengan perasaan. Kalau cinta mikirnya pakai otak, tragedi galau pun tidak sebanyak ini.”, kata Gita, seorang sahabat.
“Karena cinta merasuki semua yang ada di tubuh manusia. Merasuki perasaan, otak, pikiran, jiwa, bahkan denyut nadi sekalipun.”, kata Agam, seorang sahabat.
“Karena cinta kadang menimbulkan kekhawatiran. Bukankah galau muncul karena kita khawatir?”,kata Brian seorang sahabat.
“Karena dengan kegalauan lah, sensasi cinta dapat dirasakan. Itulah serunya cinta.”, kata Acus, seorang sahabat.
Cinta adalah perjalanan panjang, ia tumbuh tua bersama waktu dan manusia. Dan, ia tak pernah benar-benar jauh. Selalu memeluk manusia dengan erat. Mengisi celah yang mungkin hanya sejengkal itu. Memberi kita alasan untuk selalu pulang.
Love is a place that we keep visiting again and again. It annoys us to no end. And for something like this, we may call it HOME.
Yes, love is a home for every one. Indeed.









